Sungguh beruntung jika
memiliki ayah yang tak pernah mengekang. Selalu mendukung setiap keputusan dan
langah yang kita ambil. Bahkan dari sikap ayah seperti itu, kita bisa tumbuh
menjadi lelaki dewasa
Beberapa waktu yang lalu
saya pernah membaca sebuah kutipan yang diposting salah seorang teman saya di
akun facebook-nya, tentang ayah dan anak laki-lakinya.
“Seorang lelaki yang
berhasil dalam kariernya biasanya memiliki ayah yang memberi saran tentang
karier. Dari ayah, anak belajar tentang investasi dan keuangan. Kenangan masa
kecil yang didapat si anak perempuan akan terekam dan mengendap hingga dewasa.
Cara terbaik untuk ayah menolong anak perempuannya adalah membiarkan mereka
mencari jalan sendiri. Anda hanya perlu mendengarkan dan membuat anak Anda merasa
Anda peduli dan percaya bahwa mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.”
Saya langsung teringat
Ayah. Ayah tidak pernah memaksakan saya harus masuk jurusan apa di universitas
mana. Ketika saya kecewa karena hanya bisa diterima di MA saya dahulu, bukan di
sekolah yang sama dengan Ayah, beliau pun bercerita mengenai bagaimana ‘sakti’
nya tanda tangan yang dimiliki kakek saya sehingga Ayah bisa masuk ke salah
satu sekolah terbaik saat itu.
Ketika kemudian saya
masuk ke kelas IPS pada saat penjurusan di SMA, dengan santainya Ayah
menyemangati, “Daripada masuk IPA dan ujung-ujungnya harus kuliah di sosial,
mending dari awal masuk IPS.” Saat itu saya merasa disemangati penuh oleh Ayah.
Mungkin ada sebagian teman-teman yang lain yang dimarahi orangtuanya karena
memilih jurusan IPS, saya malah bangga didukung sepenuhnya oleh Ayah.
Ketika saya mengikuti
beberapa ujian masuk perguruan tinggi dan gagal, Ayah kemudian bercerita
bagaimana beliau mengikuti lebih banyak tes daripada yang saya ikuti. Bahkan
beliau jauh-jauh datang ke pulau Jawa hanya untuk tes masuk salah satu sekolah
tinggi.
Pernah pula pada satu
ketika saya meminta izin untuk mengikuti seleksi program pendampingan dan
pemberdayaan masyarakat di Bogor, Jawa Barat, dengan santainya Ayah berkata,
“Coba aja Kak, siapa tau lolos, keren tuh, Ayah aja belum pernah sampai ke
sana.”
Terkadang saya
membandingkan perlakuan yang diberikan oleh Ayah dengan perlakuan yang diterima
oleh sepupu perempuan saya dari orangtua laki-lakinya. Berbeda. Sangat-sangat
berbeda. Mereka tidak mendapatkan kebebasan seperti yang diberikan oleh Ayah
kepada saya, bahkan untuk bersekolah di luar kota. Dan saya sangat bersyukur
kalau Ayah memberikan izin kepada saya untuk bersekolah di luar pulau bahkan.
Saya sangat bangga dengan
Ayah. Tanpa semangat dari Ayah, mungkin saya tidak akan seperti ini. Saya belum
tentu bisa bersekolah di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Tanpa
dukungan penuh dari Ayah, saya tentu tidak akan menjadi seperti sekarang. Ayah
selalu tahu apa yang terbaik buat saya, Ayah selalu memberikan yang terbaik
buat saya.
Ketika saya masih duduk
di bangku sekolah dasar, Ayah rela berhujan mengantarkan saya untuk pergi les
tambahan, padahal jaraknya cukup jauh dari rumah. Ketika saya duduk di sekolah
menengah, Ayah beberapa kali meninggalkan pekerjaannya untuk mengantarkan dan
menjemput saya sekolah. Bahkan saat saya sudah duduk di bangku kelas tiga MA,
Ayah mau menunggui saya hingga selesai mengikuti kursus persiapan ujian
nasional dan persiapan masuk perguruan tinggi hingga tengah malam. Ada banyak
cerita lainnya tentang Ayah dan saya.
Dan kalau ditanya, apakah
saya mencintai beliau? Jawabannya sudah pasti iya, saya sangat-sangat mencintai
Ayah. Tanpa Ayah, saya tidak mungkin bisa di sini.

1 Komentar
Nicepost def....
BalasHapus