Saat lelah kian menggelora, saya biasanya memaksakan
untuk menulis. Tulisan ini dimulai saat jam menunjukan pukul 22.37 waktu Pnom
Penh. Waktu Pnom Penh adalah sama dengan Jakarta. Rekan sekamar saya sudah
mendengkur, mungkin sudah berkali-kali berganti mimpi. Namun saya masih ingin
terus menulis agar bisa berbagi cerita dengan anda. Iya, anda, bukan yang lain…
Menjelajahi Ho Chi Minh sungguh memukau. Beda jauh
dengan Jakarta yang sering menimbulkan umpatan. Sepertinya HCMC ini sudah
menjadi destinasi wisata favorit. Pagi hari tampak bis-bis wisatawan yang mewah
dengan suspensi yang lembut bak terigu sudah lalu lalang membawa penumpang
menikmati kemolekan HCMC.
Iya molek,karena kota ini membangun ratusan taman
dengan koleksi bunga dan tumbuhan yang subur menghijau. Di Pusat kota di dekat
patung Paman Ho, bahkan saya menjumpai lautan bunga ros berwarna merah memikat.
Di sebelahnya tampak kerlingan bunga teratai berwarna pink sungguh menggoda.
Jika Bengkulu giat membangun taman dengan tangan dinginnya Pak Bupati, maka
HCMC yang dikendalikan secara sentral dari Hanoi sepertinya sudah lama
membangun ratusan taman kota. Jalan-jalan yang lebar dengan trotoar yang sama
lebarnya membuat betah para pejalan kaki.
Rimbunnya pepohonan yang subur menghijau tampak
seperti bersaing dengan gugusan gedung-gedung pencakar langit di HCMC. Sungguh
ia menjadi kota modern yang bangkit menyamai deretan kota besar di Asia. Kesan
HCMC sebagai negara tertutup karena ideologi sosialisme sama sekali tidak
nampak. Ia berwujud kota modern dengan sejumlah pertanda menguatnya gejala
kapitalisme di negara ini.
Oh ya, bagaimana dengan sungai? Beberapa sungai yang
membelah kota tampak bersih. Dari dalam bis kami melihat keceriaan ikan warna
warni di sungai dalam kota. Sepertinya ikan-ikan tersebut sengaja ditanam untuk
keindahan kota. Dan tak ada warga yang iseng memancingnya. Seekor ikan berujar
kepada saya ia betah menghuni sungai ini sambil tersipu. Sepanjang sungai penuh
dengan ikan berwarna kekuningnan seperti ikan mas. Janji saya untuk bicara soal
kuliner mungkin sedikit tertunda. Lebih bagus saya lanjutkan cerita perjalan
via darat antar dua negara: Vietnam dan Kamboja. Seperi kemarin, tulisan tidak
akan saya sempurnakan dengan data dan fakta dari internet. Semuanya hanya yang
saya lihat dan alami. Mungkin saja ada perbedaan nama atau kurang tepat
spellingnya. Ndak apa-apa, asal asli
bukan hasil meniru.
Agenda hari ini memang padat. Kami berangkat jam 08.00
menuju KJRI HCMC. Sengaja disingkat untuk meringkas kata. Perjalanan menembus
kota HCMC menuju KJRI cuma sebentar. Jam 08.30 kami sudah tiba di luar pagar
KJRI, lebih cepat setengah jam dari jadwal. Rindu dengan symbol-simbol tanah
air, maka aksi selfie dan jeprat jepret berfoto langsung ramai. Jika tidak
diingatkan bisa berlanjut aksi selfi massal ini. Staf KJRI bernama Taufik
(kalau tidak salah) menemui kami dan menyampaikan bahwa agenda pertemuan dengan
Konsul Jenderal adalah jam 09.30. Walah.
Karena kami sudah datang, akhirnya pertemuan
dipercepat mulai jam 09 dihadiri oleh Konsul Jenderal RI HCMC Bapak Jean Annes
yang sangat fasih berbahasa Inggris. Beliau banyak bercerita tentang hubungan
bilateral RI dan Vietnam. Menurutnya, pertumbuhan hubungan bisnis RI dan
Vietnam tumbuh sangat cepat. Dalam tiga tahun mendatang target transaksi
RI-Vietnam akan mencapai 10 Milyar USD. Warga RI di Vietnam tidak banyak,
berkisar sekitar 1000 orang. Dari jumlah tersebut, 700 orang adalah pekerja
terampil di berbagai perusahaan seperti industri dan pertambangan. Pekerja RI
di Vietnam berbeda dengan TKI di Timteng, Singapore dan Malaysia yang umumnya
adalah pembantu rumah tangga. Di Vietnam pekerja RI menempati posisi penting
dengan keterampilan high skill.
Hubungan diplomatik RI-Vietnam telah terjalin sejak
dahulu, namun resminya mulai tahun 1955. Tahun ini KJRI merayakan 60 tahun
hubungan diplomatik kedua negara. Saking menariknya Indonesia dimata Vietnam,
saat ini ada salah satu Universitas di Vietnam yang membuka Program Studi S1
Indonesia. Sudah ada 10 angkatan yang lulus dengan jumlah alumni sekitar 200
orang. Mereka sering hadir di KJRI untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang
seni dan budaya Indonesia.
Pertemuan di KJRI sungguh mengesankan dan hangat.
Layaknya kami bertemu orang tua di negeri orang. Sayangnya tidak bisa
berlama-lama karena harus melanjutkan perjalanan menuju Cambodia. Jam 10.30
kami pamit untuk melanjutkan perjalanan. Staf KJRI membekali kami dengan berbagai makanan
yang tadi dihidangkan untuk dibawa sebagai bekal perjalanan. Perjalanan menuju
Pnom Penh normalnya hampir sepuluh jam. Namun perjalanan kami penuh dengan
berkah. Cukup singkat karena hanya dalam waktu 6 jam kami sudah tiba di Pnom
Penh. Perjalanan juga terasa singkat karena sepanjang jalan diputar lagu khas
tanah air, dangdut. Rupaya seorang teman saya kreatif membawa flash disk
kumpulan lagu dangdut dan meminta awak bis memutarnya. Antrian di imigrasi
border yang kami khawatirkan panjang, ternyata lancar selancar-lancarnya. Baik
saat keluar dari Vietnam, maupun saat masuk imigrasi Cambodia.
Paspor rombongan bahkan diperiksa kolektif sehingga
tidak perlu kami satu persatu antri dan dipelototi oleh petugas imigrasi. Sepengetahuan
saya tentang border tiap negara di internet, baru kali ini paspor tidak
diperiksa satu persatu saat masuk imigrasi. Beda banget dengan imigrasi
Singapore atau Australia yang sangat ketat, bahkan dibaui anjing pelacak (Google). Kali ini tas dan bagasi kami
bahkan tidak perlu diperiksa di X-ray, cukup tetap disimpan di bis saja.
Mungkin ini berkah berkhidmat untuk santri…
Perjalanan menembus dua negara ini juga lancar. Di
perjalanan nyaris tidak ada hambatan. Jalan yang dilalui mulus, lebar dan bagus
sehingga tidak ada kendala. Bis tidak berhenti untuk istirahat atau ke toilet,
terus saja berjalan sehingga perjalanan jadi begitu cepat. Sedianya kami tiba
jam 11 malam, ternyata jam 6 sore sudah masuk ke Pnom Penh. Kami lalu berganti
bis di kantor operator bis antar negara. Untuk menuju hotel menggunakan bis
lain. Sedikit kendala saat hendak masuk hotel, sopir bis tidak mau parker dekat
ke hotel, sehingga kami cukup lama berhenti sampai akhirnya diputuskan menyewa
dua buah bentor untuk mengangkut puluhan carriel yang tambun. Kota HCMC begitu
mengesankan. Pengembaraan kami di pramuka Asean kali ini masih berlanjut selama
kurang lebih dua minggu kedepan. Nantikan ceritanya...


1 Komentar
Nice post mannn....
BalasHapusDeksripsi bunganya detail sekali......